Senin, 12 Januari 2015

toksisitas kafein



A. Sifat Fisika Kimia
1.    Sifat fisik kafein (Mumin,2006)
Rumus molekul     : C8H10N4O2
Description: http://sayacintafarmasi.files.wordpress.com/2011/03/kafein.jpg?w=474
Rumus Bangun Kafein
Nama lain                :   1,3,5-trimethylxanthine trimethylxanthine, theine, methyltheobromine
Wujud                      : Bubuk putih tidak berbau
Berat molekul          : 194.19 g/mol
Densitas                  : 1.23 g/cm3, solid
Titik leleh                 : 227–228 °C (anhydrous) 234–235 °C (monohydrate)
Titik didih                 : 178 °C subl.
Kelarutan dalam air : 2.17 g/100 ml (25 °C) 18.0 g/100 ml (80 °C) 67.0 g/100 ml (100 °C)
Keasaman               : -0,13 – 1,22 pKa
Momen dipole         : 3.64 D
1.    Sifat kimia kafein
Teofilin, Kafein dan theobromine merupakan xantin termetilasi. Kafein adalah 1,3,7-Trimethilxantin. Rumus stuktur xantin dan sifat turunan xantin yaitu :
Description: http://toksikologi519.files.wordpress.com/2014/12/62f99-teobromin-teofilin.jpg?w=474
Kelarutan metilxantin rendah dan ditingkatakan dengan pembentukan kompleks (biasanya pebandingan 1:1) dan berbagai bahan. Pembentukan garam kompleks ganda (Misalnya Kafein dan Natrium Benzoat) juga meningkatka kelarutan diair. Garam garam ini terdisosiasi menjadi metilxantine (Brunton,2006).
B. Farmakokinetik Kafein
Distribusi              :  bayi,: 0,8-0,9 L/Kg
Anak diatas  9 bulan :  0,6 L/Kg
Ikatan protein      :  17% (anak –anak) sampai 36%(dewasa)
Metabolisme        :  melalui demetilisasi olh CYP1A2
Waktu paruh       :  bayi : 72-92 jam
Anak anak dan Dewasa : 5 jam
Waktu puncak     : oral 30 menit sampai 2 jam
Ekskresi               :  bayi kurang dari 1 bulan : diekskresi dalam bentuk tidak berubah
Anak anak dan dewasa: dalam urine sebagai  metabolit (Lexi,2011)
Derivate Xantin diadsorbsi baik secara oral, kadar distribusi puncak yaitu 2 jam. Derivate xantin  di metabolisme oleh hati menjadi metilxantin dan derivate asam metiluric. Metabolism bervariasi berdasarkan perbedan umur, perokok, dan orang dengan penyakit komlikasi mungkin karena kadar cytochrome P450 dan sistem N-acetyltransferase bervariasi. Obat di eliminasi oleh ginjal dengan waktu paru 3 sampai 15 jam  pada orang yang tidak merokok (4 sampai 5 jam pada orang dewasa merokok) (Barlie,2005).
Kafein yang sudah mengalami metabolisme akan menghasilkan tiga metabolit dimetilxantin, yaitu:
1.    Paraxanthine (84%) : meningkatkan lipolisis, sehingga kadar gliserol dan asam lemak dalam plasma darah bertambah. Inilah yang menyebabkan energi tubuh seseorang meningkat setelah minum kafein.
2.    Theobromine (12%) : meningkatkan dilatasi pembuluh darah (aliran darah semakin cepat) dan meningkatkan volume urine (efek diuretik).
3.    Teofilin (4%) : melemaskan otot-otot polos dari bronki.
C. Prevelensi Kejadian Toksistas Kafein
Di Amerika Serikat rata-rata penduduk  asupan kafein harian per konsumen dewasa    adalah 280 miligram (setara dengan 17 ons kopi diseduh atau 84 ons minuman ringan). Studi menunjukkan bahwa 30 miligram atau kurang kafein dapat mengubah laporan diri dari suasana hati dan mempengaruhi perilaku dan 100 mg per hari dapat menyebabka ketergantungan dan penarikan fisik gejala pada pantang (Jhon Hopkins medicine , 2010).
Description: http://www.mausehat.com/wp-content/uploads/2014/04/19674882.jpg
Kriteria diagnostik untuk keracunan kafein dapat ditemukan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-IV-TR) dan Klasifikasi Internasional Organisasi Kesehatan Dunia Penyakit (ICD-10). [12, 13] Seorang pasien harus memiliki baru-baru ini konsumsi kafein biasanya lebih dari 250 mg dan setidaknya 5 dari tanda-tanda berikut: gelisah, gugup, kegembiraan, insomnia, wajah memerah, diuresis, gangguan pencernaan, otot berkedut, aliran bertele-tele berpikir dan berbicara, takikardia atau aritmia jantung, dan periode sifat tdk habis-habisan dan / atau agitasi psikomotor. Gejala ini tidak bisa karena gangguan fisik atau mental. Toksisitas Dosis kafein sangat jarang fatal. Namun, kafein dapat mematikan pada dosis yang sangat tinggi (yaitu, 5 -10 g) (Jhon Hopkins medicine , 2010).
LD kafein pada manusia diperkiraka 5 sampai 10 g. walaupun kematian tidak terjadi pada dosis ini, pasien yang menggunakan diatas 10 mg/kg menyebakan  disrimia. Banyak efek samping kelebihan penggunaan kafein menunjukan stimulasi susunan  saraf pusat seperti insomnia, gelisah, gangguan sensorik dan delirium. Meningkatkan tegang otot, premature contractions ventrikel (PVC), diare, meningkankan peptic ulcuS,pendarahan  saluran pencernaan  dan takikardia (Barlie,2005).
Mengkonsumsi kafein dalam jumlah lebih dari 250 mg per hari dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai caffeinism. Caffeinism biasanya menggabungkan ketergantungan kafein dengan berbagai kondisi fisik dan mental yang tidak menyenangkan termasuk kegelisahan, lekas marah, gelisah, insomnia, sakit kepala, dan jantung berdebar-debar setelah digunakan kafein.
D. Mekanisme toksistas
Obat-obat menujukan efek ganda di jantung. Efek intropik positif pada miokardium dan efek konotopik positif pada sinoatrial node, menyebakan peningkata sementara, dan gaya kontraksi jantung dan kerja jantung. Pada dosis lebih 250 mg, menyebakan efek vagal, vasomotor, kafein dapat meningkatkan kecepatan sinus; takikardia, ekstrasitol atau aritmia (Gennaro, )
Efek farmakologi kafein yaitu menstimulan otot ,meningkatkan kontraksi otot dan mengurungai kelelahan otot dengan menstimulan sel parietal, meningkatakan asam lambung, kafein memacu dieresis dengan pengigkatan aliran darah ginjal dan kecepatan llfiltrasi glomerular dan mengurangi reabsorbsi natrium dan air di tubulus maksimal dan menstimulasi glycogenesis dan lipolisis (Genaro,
Kafein dapat menyebabkan penurunan rasa letih dan peningkatan rasa letih akibat perangsan pada kortex dan daerah lai pada otak, konsumsi 15 g kafein menimbulkan ansietas dan gemetar. Kafein dosis tinggi bersifat inotropik dan konotropik pada jantung .  percepatan denyet jantung dapat memacu kontraksi ventrikel yang premature pada orang lain (Mycek,2001). 
E. Cara Penangan
Penanganan Darurat dan Tindakan Suportif
1.    Penatalaksanaan jalan nafas, yaitu membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara.
2.    Jika ada kejang, beri diazepam dengan dosis:
·         Dewasa: 10-20 mg diberikan secara intra vena dengan kecepatan 2,5 mg/30 detik atau 0,5 mL/30 menit, jika perlu dosis ini dapat diulan setelah 30-60 menit. Mungkin diperlukan infus kontinyu sampai maksimal 3 mg/kg BB/24 jam.
·         Anak-anak: 200-300 µg/kg BB.
3.    Hipokalemia biasanya sembuh tanpa pengobatan
4.    Lakukan monitoring EKG dan tanda-tanda vital selama minimal 6 jam setelah konsumsi.
1.    Obat Spesifik dan Antidotum.
Atasi takiaritmia dan hipotensi dengan memberikan propranolol 0,01-0,02 mg/kg intravena atau esmolol 0,025-1 mg/kg/mnt, dimuladengan dosis rendah da amati gejalanya
Takiaritmia miokard dan peningkatan kejang harus dipantau  pada pasien setelah menggunaka  1 g atau lebih kafein. Aksi pendek badrenergic  blocker, seperti esmolol (Brevibloc® injeksi), berguna dalam manajemen  dari yang pertama, sedangkan kejang dikendalikan oleh benzodiazepine aksi pendek, seperti midazolam (Barlie,2005)
G. Informasi Tambahan
 Peringatan / Pencegahan
Pasien yang harus diberi perhatian (American Pharmacist Assosiation,2009):
1.     Kecemasan :Hindari penggunaan pada pasien dengan kecemasan, agitasi, atau tremor.
2.    Penyakit kardiovaskular :Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit kardiovaskular; menghindari penggunaan pada pasien dengan aritmia jantung simptomatik.
3.    Penyakit Gastrointestina: Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat ulkus peptikum dan / atau gastroesophageal reflux.
4.    Kerusakan Hati :Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan hati.
5.    Kerusakan Ginjal :Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal.
6.    Gangguan kejang :Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat gangguan kejang; dapat menurunkan ambang kejang yang mengarah ke onset baru atau aktivitas kejang terobosan.
DAFTAR PUSTAKA
American Pharmacist Assosiation, 2008. Drug Information Handbook 18 th edition. Florida: Lexo comp
Balamal,G dkk, 2013. Phamacological Screaning Method : Review On History of Caffein .India : Krisna Teja Pharmacy college
Barlie, Frank A. 2005. Clinical Toxicologi :Principles dan Mechanisms . Florida: CRC Press.
Brunton, Laurence. 2006. Goodman & Gilman: the Pharmacologica; basis of Therapeutics
BPOM,2014.(http://www.pom.go.id/public/press_release/detail.asp?id=3&qs_menuid=7) diakses tanggal 12 desember 2014
Gennaro,AR 1998, Remington Pharmaceutical Sciences ed 18. London :Pharmaceatical Press.
Jhon Hopkins medicine , 2010 ,  http://www.hopkinsmedicine.org/psychiatry/research/BPRU/docs/Caffeine_Dependence_Fact_Sheet.pdf diakses tanggal 12 desember 2014
Mumin A, Kazi F A, Zainal A, Zakir H. 2006. Determination and Characterization of Caffeine in Tea, Coffee, and Soft Drink by Solid Phase Extraction and High Performance Luquid Chromatography (SPE – HPLC). Malaysian Journal of Chemistry, 8: 45-51.

Mycek, mary,. 2001. Farmakologi Bergambar edisi 2. Jakarta :Widya Medika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar