A. Sifat Fisika Kimia
1. Sifat fisik kafein (Mumin,2006)
Rumus molekul : C8H10N4O2

Rumus Bangun Kafein
Nama lain
: 1,3,5-trimethylxanthine trimethylxanthine, theine,
methyltheobromine
Wujud
: Bubuk putih tidak berbau
Berat molekul : 194.19
g/mol
Densitas
: 1.23 g/cm3, solid
Titik leleh
: 227–228 °C (anhydrous) 234–235 °C (monohydrate)
Titik didih
: 178 °C subl.
Kelarutan dalam air : 2.17 g/100 ml (25 °C) 18.0 g/100 ml
(80 °C) 67.0 g/100 ml (100 °C)
Keasaman :
-0,13 – 1,22 pKa
Momen dipole : 3.64 D
1. Sifat kimia kafein
Teofilin, Kafein dan theobromine merupakan xantin
termetilasi. Kafein adalah 1,3,7-Trimethilxantin. Rumus stuktur xantin dan
sifat turunan xantin yaitu :

Kelarutan metilxantin rendah dan ditingkatakan dengan
pembentukan kompleks (biasanya pebandingan 1:1) dan berbagai bahan. Pembentukan
garam kompleks ganda (Misalnya Kafein dan Natrium Benzoat) juga meningkatka
kelarutan diair. Garam garam ini terdisosiasi menjadi metilxantine
(Brunton,2006).
B. Farmakokinetik Kafein
Distribusi
: bayi,: 0,8-0,9 L/Kg
Anak diatas 9 bulan : 0,6 L/Kg
Ikatan protein : 17%
(anak –anak) sampai 36%(dewasa)
Metabolisme
: melalui demetilisasi olh CYP1A2
Waktu paruh : bayi
: 72-92 jam
Anak anak dan Dewasa : 5 jam
Waktu puncak : oral 30 menit sampai
2 jam
Ekskresi
: bayi kurang dari 1 bulan : diekskresi dalam bentuk tidak berubah
Anak anak dan dewasa: dalam urine sebagai metabolit
(Lexi,2011)
Derivate Xantin diadsorbsi baik secara oral, kadar
distribusi puncak yaitu 2 jam. Derivate xantin di metabolisme oleh hati
menjadi metilxantin dan derivate asam metiluric. Metabolism bervariasi
berdasarkan perbedan umur, perokok, dan orang dengan penyakit komlikasi mungkin
karena kadar cytochrome P450 dan sistem N-acetyltransferase bervariasi. Obat di
eliminasi oleh ginjal dengan waktu paru 3 sampai 15 jam pada orang yang
tidak merokok (4 sampai 5 jam pada orang dewasa merokok) (Barlie,2005).
Kafein yang sudah mengalami metabolisme akan menghasilkan
tiga metabolit dimetilxantin, yaitu:
1. Paraxanthine (84%) : meningkatkan
lipolisis, sehingga kadar gliserol dan asam lemak dalam plasma darah bertambah.
Inilah yang menyebabkan energi tubuh seseorang meningkat setelah minum kafein.
2. Theobromine (12%) : meningkatkan
dilatasi pembuluh darah (aliran darah semakin cepat) dan meningkatkan volume
urine (efek diuretik).
3. Teofilin (4%) : melemaskan otot-otot
polos dari bronki.
C. Prevelensi Kejadian Toksistas
Kafein
Di Amerika Serikat rata-rata penduduk asupan kafein
harian per konsumen dewasa adalah 280 miligram (setara dengan
17 ons kopi diseduh atau 84 ons minuman ringan). Studi menunjukkan bahwa 30
miligram atau kurang kafein dapat mengubah laporan diri dari suasana hati dan
mempengaruhi perilaku dan 100 mg per hari dapat menyebabka ketergantungan dan
penarikan fisik gejala pada pantang (Jhon Hopkins medicine , 2010).

Kriteria diagnostik untuk keracunan kafein dapat ditemukan
dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-IV-TR) dan
Klasifikasi Internasional Organisasi Kesehatan Dunia Penyakit (ICD-10). [12,
13] Seorang pasien harus memiliki baru-baru ini konsumsi kafein biasanya lebih
dari 250 mg dan setidaknya 5 dari tanda-tanda berikut: gelisah, gugup,
kegembiraan, insomnia, wajah memerah, diuresis, gangguan pencernaan, otot
berkedut, aliran bertele-tele berpikir dan berbicara, takikardia atau aritmia
jantung, dan periode sifat tdk habis-habisan dan / atau agitasi psikomotor.
Gejala ini tidak bisa karena gangguan fisik atau mental. Toksisitas Dosis
kafein sangat jarang fatal. Namun, kafein dapat mematikan pada dosis yang
sangat tinggi (yaitu, 5 -10 g) (Jhon Hopkins medicine , 2010).
LD kafein pada manusia diperkiraka 5 sampai 10 g. walaupun
kematian tidak terjadi pada dosis ini, pasien yang menggunakan diatas 10 mg/kg
menyebakan disrimia. Banyak efek samping kelebihan penggunaan kafein
menunjukan stimulasi susunan saraf pusat seperti insomnia, gelisah,
gangguan sensorik dan delirium. Meningkatkan tegang otot, premature
contractions ventrikel (PVC), diare, meningkankan peptic
ulcuS,pendarahan saluran pencernaan dan takikardia (Barlie,2005).
Mengkonsumsi kafein dalam jumlah lebih dari 250 mg per hari
dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai caffeinism. Caffeinism biasanya
menggabungkan ketergantungan kafein dengan berbagai kondisi fisik dan mental
yang tidak menyenangkan termasuk kegelisahan, lekas marah, gelisah, insomnia,
sakit kepala, dan jantung berdebar-debar setelah digunakan kafein.
D. Mekanisme toksistas
Obat-obat menujukan efek ganda di jantung. Efek intropik
positif pada miokardium dan efek konotopik positif pada sinoatrial node,
menyebakan peningkata sementara, dan gaya kontraksi jantung dan kerja jantung.
Pada dosis lebih 250 mg, menyebakan efek vagal, vasomotor, kafein dapat
meningkatkan kecepatan sinus; takikardia, ekstrasitol atau aritmia (Gennaro, )
Efek farmakologi kafein yaitu menstimulan otot ,meningkatkan
kontraksi otot dan mengurungai kelelahan otot dengan menstimulan sel parietal,
meningkatakan asam lambung, kafein memacu dieresis dengan pengigkatan aliran
darah ginjal dan kecepatan llfiltrasi glomerular dan mengurangi reabsorbsi
natrium dan air di tubulus maksimal dan menstimulasi glycogenesis dan lipolisis
(Genaro,
Kafein dapat menyebabkan penurunan rasa letih dan
peningkatan rasa letih akibat perangsan pada kortex dan daerah lai pada otak,
konsumsi 15 g kafein menimbulkan ansietas dan gemetar. Kafein dosis tinggi
bersifat inotropik dan konotropik pada jantung . percepatan denyet
jantung dapat memacu kontraksi ventrikel yang premature pada orang lain
(Mycek,2001).
E. Cara Penangan
Penanganan Darurat dan Tindakan Suportif
1. Penatalaksanaan jalan nafas, yaitu
membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara.
2. Jika ada kejang, beri diazepam
dengan dosis:
·
Dewasa:
10-20 mg diberikan secara intra vena dengan kecepatan 2,5 mg/30 detik atau 0,5
mL/30 menit, jika perlu dosis ini dapat diulan setelah 30-60 menit. Mungkin
diperlukan infus kontinyu sampai maksimal 3 mg/kg BB/24 jam.
·
Anak-anak:
200-300 µg/kg BB.
3. Hipokalemia biasanya sembuh tanpa
pengobatan
4. Lakukan monitoring EKG dan tanda-tanda
vital selama minimal 6 jam setelah konsumsi.
1. Obat Spesifik dan Antidotum.
Atasi takiaritmia dan hipotensi dengan memberikan
propranolol 0,01-0,02 mg/kg intravena atau esmolol 0,025-1 mg/kg/mnt,
dimuladengan dosis rendah da amati gejalanya
Takiaritmia miokard dan peningkatan kejang harus
dipantau pada pasien setelah menggunaka 1 g atau lebih kafein. Aksi
pendek badrenergic blocker, seperti esmolol (Brevibloc® injeksi), berguna
dalam manajemen dari yang pertama, sedangkan kejang dikendalikan oleh
benzodiazepine aksi pendek, seperti midazolam (Barlie,2005)
G. Informasi Tambahan
Peringatan / Pencegahan
Pasien yang harus diberi perhatian (American Pharmacist
Assosiation,2009):
1. Kecemasan :Hindari penggunaan
pada pasien dengan kecemasan, agitasi, atau tremor.
2. Penyakit kardiovaskular :Gunakan
dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit kardiovaskular; menghindari
penggunaan pada pasien dengan aritmia jantung simptomatik.
3. Penyakit
Gastrointestina: Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat ulkus
peptikum dan / atau gastroesophageal reflux.
4. Kerusakan Hati :Gunakan dengan
hati-hati pada pasien dengan gangguan hati.
5. Kerusakan Ginjal :Gunakan dengan
hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal.
6. Gangguan kejang :Gunakan dengan
hati-hati pada pasien dengan riwayat gangguan kejang; dapat menurunkan ambang
kejang yang mengarah ke onset baru atau aktivitas kejang terobosan.
DAFTAR PUSTAKA
American Pharmacist Assosiation, 2008. Drug Information
Handbook 18 th edition. Florida: Lexo comp
Balamal,G dkk, 2013. Phamacological Screaning Method :
Review On History of Caffein .India : Krisna Teja Pharmacy college
Barlie, Frank A. 2005. Clinical Toxicologi :Principles dan
Mechanisms . Florida: CRC Press.
Brunton, Laurence. 2006. Goodman & Gilman: the
Pharmacologica; basis of Therapeutics
BPOM,2014.(http://www.pom.go.id/public/press_release/detail.asp?id=3&qs_menuid=7) diakses tanggal 12 desember 2014
Gennaro,AR 1998, Remington Pharmaceutical Sciences ed
18. London :Pharmaceatical Press.
Jhon Hopkins medicine , 2010 , http://www.hopkinsmedicine.org/psychiatry/research/BPRU/docs/Caffeine_Dependence_Fact_Sheet.pdf diakses tanggal 12 desember 2014
Mumin A, Kazi F A, Zainal A, Zakir H. 2006. Determination
and Characterization of Caffeine in Tea, Coffee, and Soft Drink by Solid Phase
Extraction and High Performance Luquid Chromatography (SPE – HPLC). Malaysian
Journal of Chemistry, 8: 45-51.
Mycek, mary,. 2001. Farmakologi Bergambar edisi 2.
Jakarta :Widya Medika